Dato Dr. Chang Kian Meng: “Semakin cepat Anda mendapatkan transplantasi sel induk (stem cell), semakin tinggi kesempatan Anda untuk sembuh dan semakin rendah kemungkinan untuk kambuh kembali”.

Tubuh manusia tersusun atas puluhan ribu sel yang dimana sel induk adalah yang paling menakjubkan. Sel induk (stem cell) adalah sel yang tidak dapat dibedakan. Mereka dapat berkembang menjadi beberapa sel “spesialis” di dalam tubuh. Sel induk dapat melakukan apa yang disebut “tindakan kebangkitan biologis”. “Sel universal” ini bukan hanya sel benih dari berbagai jaringan dan organ.

Dato Dr Chang Kian Meng, konsultan spesialis hematologi dan pengobatan transplantasi di Sunway Medical Centre menegaskan bahwa sel induk adalah “ibu dari sel-sel” untuk menyediakan sel baru. “Setiap organ di tubuh kita seperti jantung, hati, paru-paru, ginjal, dsb, memiliki tipe sel induk yang unik. Transplantasi sel induk adalah tindakan untuk mentransplantasi sel induk sehat ke dalam tubuh pasien untuk memperbaiki atau mengganti sel-sel yang rusak”. Sangat menggembirakan bahwa dengan kemajuan teknologi transplantasi, risiko transplantasi telah turun dari 30 hingga 40% di masa lalu menjadi sekitar 10% hingga 15% saat ini.

Transplantasi sel induk Hematopoietik adalah tindakan yang paling sering dilakukan untuk penderita anemia aplastic, leukemia, talasemia, sindrom tulang sumsum gagal, berbagai myeloma, limfoma,  penyakit sickle cell, sindrom defisiensi imun gabungan yang parah dan lain-lain.

 

Singkatnya, sel induk ini dapat diperoleh dari tulang sumsum belakang, sel induk darah tepi, dan darah tali pusat. “Mau dari manapun sel induk diambil, mereka tetap memiliki kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Tidak bisa dikatakan mana yang paling baik. Di masa ini, transplantasi sel induk darah tepi adalah yang paling banyak dilakukan. Sekiranya sekitar 70% dari pasien-pasien memilih terapi ini dan 20% pasien memulih transplantasi tulang sumsum, sedangkan 10% pasien memilih transplantasi sel induk darah tali pusat alasannya karena mereka tidak dapat menemukan donor yang cocok dari saudara mereka”, kata Dato Dr Chang Kian Meng

Pasien kanker darah harus menjalani kemoterapi terlebih dahulu untuk mencapai tingkat keberhasilan yang tinggi dalam transplantasi sel induk

 

Karena kemajuan teknologi transplantasi yang berkelanjutan, seperti transplantasi sel  induk hematopoietik mini-alogenik, dilakukan penurunan dosis kemoterapi dan elektroterapi untuk transplantasi sehingga lebih banyak pasien yang dapat menerima transplantasi sel induk. “Saat ini, transplantasi sel induk memiliki tingkat keberhasilan tertinggi untuk anemia aplastik, talasemia, dan kegagalan sumsum tulang.”

Dato Dr Chang juga menghimbau pasien yang menderita kanker darah untuk melakukan kemoterapi untuk mengatur kondisi mereka sebelum melakukan tranplantasi. Tingkat kesuksesannya juga akan lebih tinggi. Tingkat keselamatan dari tindakan perawatan transplantasi ini berbeda-beda tergantung dari tipe penyakitnya. Untuk pasien yang menderita gagal tulang sumsum (bone marrow failure) dan talasemia, tingkat keselamatannya bisa mencapai 70% sampai 80%. Untuk pasien penderita kanker darah, tingkat keselamatan mencapai 50% sampai 60%. Sementara pasien penderita leukemia akut dengan indeks sel darah putih yang terlalu tinggi, untuk tindakan transplantasi sel induk juga dibutuhkan kemoterapi beberapa kali untuk mengontrol kondisi pasien. Setelah kemoterapi, pasien dengan leukemia mielositik kronis juga membutuhkan transplantasi sel induk apabila keadaannya kambuh lagi.

 

“Untuk kasus kecil pasien yang kambuh setelah tindakan transplantasi, ada pilihan perawatan lainnya yang bisa dilakukan. Mereka dapat menggunakan terapi sel baru, yaitu melalui imun sel –terapi Sel-T, untuk melawan kanker darah. Sebagian pasien dengan berbagai myeloma, limfoma, dan leukemia mielositik kronis dapat disembuhkan dengan obat-obatan. Pasien hanya butuh untuk menjalani transplantasi jika obat-obatan dan kemoterapi tidak efektif”.

 

Namun, Dato Dr Chang juga menjelaskan bahwa ada penyakit khusus, seperti leukemia dewasa yang masih membutuhkan transplantasi sel induk karena hanya sekitar 20% sampai 30% pasien yang dapat dikontrol menggunakan obat-obatan dan kemoterapi, dan sekitar 60% sampai 70% penderita leukemia anak-anak yang dapat disembuhkan dengan obat-obatan dan kemoterapi.

 

Dato Dr. Dr Chang mengingatkan masyarakat untuk tidak menunda transplantasi sel induk. “Dengan didukung pengobatan modern yang canggih, transplantasi sel induk telah terbukti sangat sukses dan aman. Jika dokter mengatakan bahwa penyakit Anda tidak ada tanda-tanda peningkatan untuk sembuh dan Anda harus dirawat dengan transplantasi sel induk, jangan tunda, dan jalanilah terapi transplantasi sel induk sesegera mungkin sebelum kondisi Anda semakin memburuk”

Jenis-jenis Transplantasi Sel Induk (Stem Cell)

Transplantasi sel induk dibagi menjadi dua jenis yaitu transplantasi sel induk autologus (Autologous) dan transplantasi sel induk alogenik (Alogenik). Transplantasi Autologus melibatkan penggunaan sel induk seseorang sebelum memulai terapi yang merusak sel seperti kemoterapi atau radiasi. Setelah perawatan selesai, sel Anda akan kembali ke tubuh Anda lagi. Anda dapat memilih metode perawatan ini jika Anda memiliki tulang sumsum yang sehat dan hal itu dapat mengurangi resiko komplikasi seperti GVHD.

 

Sementara itu untuk transplantasi Allogenik, metode ini melibatkan penggunaan sel-sel dari pendonor dan mereka memiliki resiko lebih tinggi untuk komplikasi tertentu, seperti GVHD. Anda juga mungkin butuh untuk mejalani pengobatan untuk menekan system imun agar tubuh Anda tidak menyerang sel baru. Kesuksesan transplantasi allogeneic tergantung pada seberapa sel-sel donor cocok dengan Anda sendiri. Kerabat dekat sering kali adalah pilihan terbaik, atau kecocokan genetik dapat ditemukan dari bank umum sumsum tulang atau bank darah tali pusat.

“Karena banyak orang yang tidak dapat menemukan HLA yang cocok, dengan teknologi terbaru maka selama setengah atau lebih dari HLA cocok maka transplantasi bisa dilakukan, namun resikonya bisa 10% lebih tinggi”.

Dato Dr. Chang mengatakan bahwa pasien yang sedang menjalani transplantasi allogenik adalah orang-orang penderita kanker darah, talasemia atau gagal tulang sumsum, karena tulang sumsum pasien atau darahnya memiliki penyakit. Tantangan terbesar adalah penolakan atau kegagalan yang terjadi setelah operasi.

Pertanyaan yang banyak ditanyakan

  1. Apa saja hal-hal yang perlu pasien perhatikan dalam menjalani transplantasi sel induk?

Sebelum transplantasi, pasien harus menjalani pemeriksaan HLA berpasangan. Usia dan kesehatan fisik adalah hal yang perlu dipertimbangkan. Dikarenakan radioterapi dan kemoterapi harus dijalankan sebelum transplantasi, oranng-orang yang berusia lebih dari 60 tahun tidak disarankan untuk menjalankan tindakan ini, khususnya transplantasi allogenik karena semakin tua usianya maka resikonya juga semakin besar.

  1. Apa saja proses transplantasi?

Sebelum transplantasi dilakukan, staf medis akan melakukan pembersihan tulang sumsum pasien selama 5 sampai 6 hari melalui injeksi, pengobatan, dan elektroterapi. Donor menjalani “cuci darah” atau mengekstrak sel induk dari tulang sumsum. Pasien yang menjalankan transplantasi tulang sumsum hematopoietic akan bisa pulang dari rumah sakit selama 3 minggu; mereka yang menjalankan transplantasi tulang sumsum bisa memakan waktu selama 5 minggu.

  1. Apa yang harus pasien perhatikan setelah melakukan tindakan transplantasi?

Dalam 3 bulan pertama setelah menyelesaikan proses transplantasi, kunjungan konsultasi harus dilakukan secara intensif. Pada umumnya, rutinitas normal harian dapat dilanjutkan setelah 3 bulan; rutinitas bekerja atau sekolah dapat dilanjutkan setelah 6-9 bulan. Jika tidak ada keluhan atau kegagalan di 3 bulan pertama, berarti masalahnya tidak terlalu besar. Selama 3 tahun, jika tidak mengalami kambuh, maka transplantasi dinyatakan sukses. Selama satu tahun setelah perawatan, pasien harus menghindari mengkonsumsi makanan mentah atau tidak/kurang matang.

  1. Apa saja efek samping dari transplantasi sel induk?

Efek samping yang berhubungan dengan penolakan/kegagalan bisa terjadi dalam waktu singkat. Namun untuk jangka panjang, harus dilakukan perhatian ekstra terhadap efek dari organ rusak yang diakibatkan dari kemoterapi dan elektroterapi

 

  1. Unit Hema-Onkologi di Sunway Medical Centre

Perawatan Khusus Kanker

 

  1. Mengapa memilih Sunway Medical Centre?

Perawatan khusus dan terintegrasi kami dalam perjalanan transplantasi BMT meliputi :

  1. Pengumpulan Sel Induk (Apheresis)
  2. Pengkondisian
  3. Infusi Sel Induk (Transplantasi)
  4. Perawatan Pasca Transplantasi

 Tim transplant yang berdedikasi dan lengkap

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *